waktu aku kecil,
ayahku selalu mengingatkan :
"sabar itu pikir"
"sabar itu pikir"
tulisan itu ditempel di meja belajarku
dan tiap malam saat aku pusing
atau ingin menyerah
tulisan itu terbaca tepat di depanku
iya,
saat aku dimaki,
aku berusaha diam dan berpikir
dan orang-orang berpikir bahwa aku sabar
iya,
saat aku ditinggalkan,
aku berusaha diam dan berpikir,
lalu menangis diam-diam
dan orang-orang berpikir aku sungguh sabar
tapi aku berpikir
sabar itu berat
dan rasa berat itu membuatku bisu
tak berucap meski manusia normal lain akan memaki
atau meratap keras-keras
tapi aku merasa
sabar itu sungguh menyiksa
sabar itu pikir
bahkan untuk mengekspresikan ketidaksabaran
aku harus menulis sepanjang ini...
bahkan untuk mengekspresikan ketidaksabaran
aku harus menulis sepanjang ini...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar